Malam Terasa Dingin, Siang Berangin Kencang: Ini Penjelasan BMKG soal Cuaca Jatim


(by detikjatim)


SURABAYA – Masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir merasakan perubahan kondisi cuaca yang cukup berbeda. Pada malam hingga pagi hari, udara terasa lebih dingin dari biasanya, sedangkan siang hingga sore hari angin bertiup lebih kencang, terutama di wilayah Malang Raya dan sekitarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, kondisi tersebut merupakan karakteristik yang umum terjadi saat musim kemarau. Fenomena suhu dingin malam hari dipengaruhi oleh bediding, sementara peningkatan kecepatan angin terjadi akibat menguatnya angin muson timur.

Selain faktor musim, BMKG juga menyebut kondisi kemarau tahun ini berpotensi diperkuat oleh pengaruh fenomena iklim global, yakni El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi tersebut dapat membuat cuaca semakin kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Fenomena Bediding Bikin Udara Malam Lebih Dingin

Prakirawan BMKG Juanda, Restina Wardhani, mengatakan suhu udara di Surabaya dan wilayah sekitarnya masih berpotensi terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari dalam beberapa waktu ke depan.

Ia memperkirakan suhu terendah di wilayah Surabaya dan sekitarnya berada pada kisaran 22–23 derajat Celsius. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan dirasakan masyarakat setidaknya dalam beberapa hari ke depan.

Menurut Restina, suhu dingin tersebut merupakan dampak dari fenomena bediding yang sering muncul saat musim kemarau. Fenomena ini terjadi ketika kondisi langit lebih cerah dan minim tutupan awan.

Saat malam hari, permukaan bumi akan lebih cepat melepaskan panas ke atmosfer karena tidak banyak awan yang menahan pelepasan energi tersebut. Akibatnya, suhu udara turun dan membuat udara terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.

Meski begitu, BMKG menegaskan bahwa fenomena bediding tidak selalu terjadi sepanjang musim kemarau. Kemunculannya bergantung pada kondisi atmosfer dan tingkat tutupan awan di suatu wilayah.

Sebelumnya, BMKG memperkirakan fenomena bediding masih berpotensi berlangsung hingga September 2026. Di sejumlah daerah dataran tinggi, suhu udara bahkan dapat turun hingga sekitar 15 derajat Celsius atau lebih rendah.

Angin Muson Timur Picu Hembusan Lebih Kencang

Selain udara dingin pada malam hari, masyarakat juga merasakan hembusan angin yang lebih kuat, terutama saat siang hingga sore. Kondisi ini banyak dirasakan di wilayah Malang Raya dan sejumlah daerah lain di Jawa Timur.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Linda Fitrotul, menjelaskan bahwa peningkatan kecepatan angin tersebut dipengaruhi oleh menguatnya angin muson timur yang terjadi selama periode musim kemarau.

Pada kondisi normal, kecepatan angin rata-rata tercatat sekitar 20 kilometer per jam atau 11 knot. Namun, pada siang hari kecepatannya dapat meningkat hingga sekitar 31 kilometer per jam sehingga hembusan angin terasa lebih kuat.

Linda menjelaskan, saat musim kemarau, massa udara kering dari Benua Australia bergerak menuju wilayah Indonesia. Ketika angin muson timur menguat, kecepatan angin di sejumlah wilayah ikut mengalami peningkatan.

Kemarau Berpotensi Lebih Kering

BMKG juga mengingatkan adanya potensi penguatan musim kemarau akibat pengaruh El Nino dan IOD positif. Kedua fenomena tersebut dapat menyebabkan kondisi atmosfer menjadi lebih kering.

Dampaknya, beberapa wilayah berpotensi mengalami cuaca yang lebih panas, curah hujan rendah, angin lebih kencang, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Linda mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi tersebut. Warga diminta memperhatikan berbagai potensi bahaya yang dapat muncul selama musim kemarau.

Saat angin bertiup kencang, masyarakat diimbau mewaspadai kemungkinan pohon tumbang, baliho roboh, maupun kerusakan bangunan akibat bagian atap yang kurang kuat. Sementara itu, saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, warga disarankan mengurangi paparan langsung sinar matahari.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka selama musim kemarau. Kebiasaan tersebut berpotensi memicu kebakaran lahan yang sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan dalam keadaan kering.

BMKG mengajak masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan memperhatikan imbauan resmi terkait kondisi atmosfer. Dengan kewaspadaan bersama, berbagai dampak yang mungkin muncul akibat perubahan cuaca selama musim kemarau dapat diminimalkan.(red/lis)

Posting Komentar

0 Komentar